Daftar Menu

Loading...

Wednesday, 21 November 2012

makalah Tafsir ayat Alqur'an tentang Haji




MAKALAH TAFSIR AYAT-AYAT
AL-QUR’AN TENTANG HAJI


Di susun oleh :
1.                Fadlilatin khoiriyah
2.      Anis aisiyah
3.      Muhammad fadhlan aly
4.      rudi sasongko


TAHUN PELAJARAN 2011-2012
SEMESTER 1


DAFTAR ISI

1.      Kata pengantar…………………………………………………...
2.      Daftar isi…………………………………………………………
3.      Bab I pendahuluan
a.       Latar belakang……………………………………………….
b.      Rumusan masalah……………………………………………
c.       Tujuan ………………………………………………………..
4.      Bab II pembahasan materi……………………………………….
a.       Kewajiban haji……………………………………………….
b.      Syarat-syarat haji…………………………………………...
c.       Manasik haji dan umrah……………………………………...
d.      Hikmah menjalankan ibadah haji…………………………….
5.      Bab III Penutup
a.       Kesipulan…………………………………………………….



                                     







KATA  PENGANTAR
                                                                      
         Segala puji bagi Allah Yang Maha pengasih, atas karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang bertema haji ini. Untuk memenuhi tugas tafsir Al-Qur’an yang dibeikan oleh Bapak H.Achmad syafi’i,Lc.,M.Th.
         Makalah kami ini berisi dalil-dalil dan menafsirkan makna ayat-ayat tersebut. Yang mendasari diwajibkannya ibadah haji untuk umat islam, serta bagaimana cara mengerjakan haji tersebut, datulis juga manfaat-manfaat ibadah haji.
         Terima kasih kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu tersusunnya makalah ini. Terutama pada guru pembimbing kami, orang tua kami, serta teman-teman yang mendukung.
         Namun demikian, belumlah sempurna makalah yang kami susun ini. Oleh karena itu kami masih mengharapkan saran serta kritik dari para pembaca.
         Harapan kami semoga makalah kami ini bermanfaat untuk para pembaca yang nantinya mendapat panggilan ke rumah Allah. Amin.


                                                         
Gresik, 10 oktober 2011



                                                                                                            Penyusun
         



                                                     BAB I
PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas tafsir Al-Qur’an yang diberikan oleh Bapak H. Achmad syafi’i, Lc.,M.Th. sert memenuhi keingintahuan kami mengenai ibadah haji yang menjadi salah satu rukun islam.
Kami ingin tahu seberapa penting ibadah haji ini sehingga banyak sekali orang yang berusaha memenuhi rukun islam yang ke-5 ini.
Kami pun berusaha menfsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ibadah haji ini.

2.      RUMUSAN MASALAH
a.       Apa landasan diwajibkannya ibadah haji?
b.      Bagaimana cara melaksanakan ibadah haji?
c.       Apa saja hikmah menjalankan ibadah haji?


3.      TUJUAN
a.       Menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan di wajibkannya ibadah haji
b.      Menjelaskan tata cara pelaksanaan ibadah haji
c.       Menyebutkan hikmah-hikmah menjalankan ibadah haji.


                   




BAB  II
PEMBAHASAN MATERI HAJI

1.      KEWAJIBAN HAJI
Haji adalah perjalanan mengunjungi Ka’bah untuk beribadah dengan cara tertentu, dalam waktu tertentu dan pada tempat-tempat tertentu. Para ulama’ sepakat bahwa perintah ibadah haji itu dimulai pada zaman Nabi Ibrahim a.s. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 125;




Artinya ; “…..Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail; ”bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
Sejak saat itu ibadah haji dilesterikan oleh para nabi pembawa wahyu berikutnya seperti nabi Hud, nabi Syu’aib sampai Nabi Muhammad s.a.w. sehingga ada yang menyebut haji itu sebagai ibah yang mencakup fungsi konservasi (pelestarian) dan aktualisasi (pembetulan)  nilai keimanan dan ketaatan totol yang telah diperkenalkan dengan sempurna oleh nabi Ibrahim a.s. beserta keluarganya.
Ibadah haji mulai diwajibkan kepada umat Muhammad s.a.w. pada akhir tahun ke-9 Hijriyah, dengan merujuk tahun turunnya ayat:




Artinya: “Dan mengerjkan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu(bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (Q.S.Ali Imran,97).


Dari ayat ini diketahui bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya. Yang dimaksud mampu (isthitha’ah) pada ayat tersebut meliputi aspek jasmani (tidak mengalami kesulitan lantaran sakit), rohani (mengetahui hokum dan manasik haji serta memiliki kesiapan mental mengerjakannya),ekonomi (memiliki kemampuan materi berupa biaya perjalanan dan selama perjalanan serta biaya hidup untuk keluarga yang ditinggal), dan dalam kondisi aman selama dalam perjalanan dan dalam melaksanakan ibadah haji.

2.      SYARAT-SYARAT HAJI
a.       Islam
b.      Berakal
c.       Baligh
d.      Memiliki kemampuan perbekalan dan kendaraan
e.       Merdeka



3.      MANASIK HAJI DAN UMRAH
Ibadah haji dan umrah merupakan ibadah yang serangkai. Artinya, setiap kali melakukan ibadah haji, akan disertai pula ibadah umrah. Akan tetapi tidak sebaliknya. Karena ketika melaksanakan ibadah umrah belum tentu dapat melakukan ibadah haji. Hal ini disebabkan karena ibadah haji harus dikerjakan pada waktu-waktu tertentu, sedangkan umrah dapat dikerjakan pada setiap waktu.
Umrah hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Dasar hukumnya adalah firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 196.



Artinya : “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah”.
Kata “atimmu” dalam ayat ini berarti : laksanakan haji dan umrah dengan sempurna. Perintah ini dapat dipahami bahwa melaksanakan haji dan umrah harus sesuai dengan ketentuan syari’at dan dengan demikian hokum haji dan umrah adalah wajib.


Ada 3 cara melaksanakan ibadah haji:
a.       Haji Ifrad
Melaksanakan ibadah haji dulu secara tersendiri, kemudian melakukan ibadah umrah secara tersendiri pula.
Pelaksanaanya:
1.      Di miqat makani (batasan tempat), seseorang yang akan melaksanakan persiapan ihram (mandi, memakai wangi-wangian dan pakaian ihram), lalu mengucapkan niat ihram untuk haji dengan kalimat:




2.      Setibanya di Makkah, setelah istirahat di maktab, hendaklah ke Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf qudum (thawaf selamat datang). Thawaf qudum ini boleh di sambung dengan sa’i dan boleh juga tidak.
3.      Pada tanggal 8 Dhul hijjah berangkat menuju ke Arafah untuk persiapan wukuf. Ada yang singgah dulu di Mina untuk bermalam dulu. Wukuf di Arafah dimulai setelah tergelincirnya matahari pada 9 Dzul hijjah.
4.      Dilanjutkan ke Musdalifah untuk mabit. Di Musdalifah bermalam (mabit) walau sebentar dan mengambil kerikil sebanyak 49-70 butir untuk persiapan melempar jumrah. Setelah tengah malam perjalanan dilanjukan ke Mina.
5.      Padaa tanggal 10 Dzul hijjah melempar jumrah aqobah dengan 7 kerikil. Dilanjutkan mencukur atau memotong rambut dengan niat tahallul.
6.      Kembali ke Makkah untuk melakukan thawaf ifadlah diteruskan dengan sa’i. kemudian bertahalul stani.
7.      Kembali ke Mina untuk mabit dan melempar 3 jumrah, yaitu jumrah ula, wustha dan aqabah yang masing-masing 7 buah kerikil. Waktunya sejak tergelincir matahari pada tanggal 11,12 Dzul hijjah.
8.      Kemudian diteruskan denganmelakukan umrah dengan urutan:
Berangkat menuju miqat makani (tan’im, ji’ranah, atau hudaibiyah) dengan pesiapan ihram dari makkah serelah sampai di miqat, sholat 2 rakaat dan dilanjutkan niat ihram umrah. Seterusnya kembali ke Makkah dan menuju ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf dan sa’I lalu mencukur dengan niat tahallul.

Jama’ah haji yang melaksanakan haji ifrad disebut “ mufrid ” dan tidak perlu membayar dam (denda).

b.      Haji tamattu’
Mengerjakan umrah secara tersendiri setelah selesai kemudian baru mengerjakan haji secara tersendiri pula.
Pelaksanaannya sama dengan haji ifrad hanya niat ihramnya untuk umrah dengan kalimat:






Kemudian pada tanggal 8 Dzul hijjah mengucpkan niat ihram untuk haji dengan kalimat:







Tamattu’ berarti “bersenang-senang” dalam beberapa waktu di antara waktu sesudah umrah sampai waktu mengerjakan haji. Cara haji seperti ini diwajibkan membayar dam (denda).
c.       Haji Qiran
Melakukan haji sekaligus bersamaan dengan umrah.
Pelaksanaanya samadengan mengucapkan niat untuk haji dan umrah dengan kalimat:





Jama’ah haji yang melaksanakan haji Qiran di sebut “Qaarin” dan wajib membayar dam (denda).
            Demikian manasik haji secara garis besar yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap jama’ah haji sesuai dengan cara yang dipilihnya. Amalan haji terdiri rukun haji (arkan al-hajj). Dan kewajiban haji (wajibat al-hajj).




Rukun haji:
a.       Ihram haji (disertai niat melakukan haji)
b.      Wukuf di Arafah
c.       Thawaf
d.      Sa’i
e.       Mencukur atau memotong rambut dengan niat tahallul.
Kewajiban haji:
a.       Ihram dari miqad (makani atau zamani)
b.      Mabit (bermalam) di Musdalifah
c.       Mabit di Mina
d.      Melontar jumrah
Amalan umrah:
a.       Ihram umrah (disertai niat melakukan umrah)
b.      Thawaf
c.       Sa’i
d.      Memotong atau mencukur rambut dengan niat tahallul
                                    













4.      HIKMAH MENJALANKAN IBADAH HAJI

a.       Ibadah haji mendidik setiap orang memiliki kepetuhan dan kepasrahan (tawakal) kepada Allah. Sarana pendidikan keikhlasan karena niat, sikap dan perbuatan yang dilakukan harus semata-mata karena Allah. Dan melatih kesabaran merupakan sikap yang harus ditampilkan selama menunaikan ibadah haji, sebagai penghayatan atas keserderhanaan, kesopanan dan kemurnian hati.
b.      Ibadah haji merupakan sarana pertemuan umat islam sedunia dari berbagai macam tingkat kehidupan,kelas jabatan dan profesi. Selama berkumpul di Makkah, mereka saling mengenal, saling membantu dan saling menasehati baik yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual maupun material.
c.       Persamaan antara sesama manusia sebagai hamba Allah. Ketika berkumpul di padang Arafah dan di Mina, ketika melontar jumrah, thowaf dan sa’i dengan pakaian ihram, nyaris tidak diketahui dan bahkan menggugurkan segala norma yang membedakan diantara mereka.
d.      Kepedulian terhadap sesame, ibadah haji dapat menyuburkan semangat berkorban dan jiwa solidaritas sesama manusia. Harus selalu tabah dalam menghadapi segala bentuk kesulitan dan menerima segala sesuatu yang tidak disukainya.
e.       Meneladani sejarah perjuangan para Nabi dan Rasul Allah, terutama nabi Ibrahim a.s. yang dikenal sebagai pengujungdan pembangun Ka’bah di Makkah.









BAB III
PENUTUP
1.      KESIPULAN

a.       Yang melandasi diwajibkannya ibadah haji adalah adanya firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 97. Yang artinya;
“Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”.

b.      Cara melaksanakan haji ada 3:
1.      Haji ifrad
Haji sendiri dulu kemudian umrah sendiri secara terpisah.
2.      Haji tamattu’
Umrah sendiri dulu kemudian haji sendiri secara terpisah.
3.      Haji qiran
Haji dan umrah dilakukan bersama-sama

c.       Hikmah ibadah haji
1.      Memiliki keihlasan dan kepatuhan kepada Allah
2.      Memperkuat persatuan dan persaudaraan islam
3.      Persatuan antara sesama manusia sebagai hamba Allah
4.      Menyuburkan semanggat dan jiwa solidaritas sesame manusia
5.      Meneladani perjuangan nabi Ibrahim a.s.









No comments:

Post a Comment